Entry: bicaralah perempuan Monday, August 10, 2009



sering aku di tikam perasaan yang bersalah saat aku harus bertatapan dengan wajah itu. Ada yang tak kumengerti dari guratan peristiwa yang diciptakan dari hari penuh dusta dan teriakan karena kekesalan yang memuncak. Makna yang tak pernah aku tahu, kapan akan tiba waktunya aku berbicara jujur tentang cinta yang aku gambar sendiri lewat kerumunan massa yag memandang acuh saat aku bersama wajah yang menghiasi segala hari. Ah, kejujuran yang mungkin tak akan mereka mengerti, karena kata-kataku telah menjadi burung. Bersayap dan terbang ke batas cakrawala. Mencari sendiri matahari yang aku biarkan aku meleleh dibatinku. Sedangkan aku hanya bisa diam. Hanya bisa mencari batas tanda tanya pura-pura. Kesunyian yang aku puisikan, melintas ingatan. Berenang dalam lautan peristiwa. Menggenggam kejujuran beban tak tertahan. Menyimpan duka dada yang berserakan dalam tangis tanpa air mata. Menyimpan api yang membakar angan. Perlahan. Menyakitkan. Beribu kalimat makian menekan-nekan. Muntah dari rongga dada yang menyimpan cerita kehidupan. Sekedar puisi tangan menari, lepaskan gelisah berkelana mencari malam yang bisa diajak berkaca dalam keheningan. Aku pahat romantika dari buku-buku peradaban. Mengusir keterasinganku dari dunia kewajaran. Menyusuri kejujuran yang tak jua aku kenali sebelumnya. Mencoba memahami peristiwa yang berulang, datang dan pergi. Dalam kesunyian aku mencari wajah sendiri. Dalam kegamangan kucoba untuk mendengarkan saja. Bicaralah!
“Bicaralah, perempuan”.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments