kekasihwaktu

...waktu adalah detak jantung kita sendiri





inilah arti banyak dari satu kata laknat
:Waktu
inilah halte kehidupan.
konstanta peradaban.
partikel sebuah perjalanan;
semua tumbuh sendiri
semua rusak sendiri,
untuk akhirnya mati.
( dan Waktu mengalir di situ)

panggil saja aku :
perempuan kekasih Waktu!
kekasihwaktu@yahoo.com


<< October 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31

Memento

Time is three things for most people, but for you, for us, just one.
A singularity. One moment.
This moment. Like you're the center of the clock, the axis on which the hands turn.
Time moves about you but never moves you.
It has lost its ability to affect you. What is it they say? That time is theft?
But not for you. Close your eyes and you can start all over again.
Conjure up that necessary emotion, fresh as roses.

Time is an absurdity. An abstraction.
The only thing that matters is this moment.
This moment a million times over.
You have to trust me.
If this moment is repeated enough,
if you keep trying-and you have to keep trying-eventually
you will come across the next item on your list.

Literature::

  • Pablo Neruda
  • Faust
  • Aynrand
  • Pulitzer
  • Yasunari Kawabata
  • Franz Kafka
  • Milan Kundera
  • Yukio Mishima
  • The Modern Word
  • Jhumpa Lahiri
  • Jorge Luis Borges
  • Arundhati Roy
  • Bei Dao

    Hiddendoors::

  • Tarotschool

  • Abundansecrets


  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



    Wednesday, October 27, 2010
    Tuhan, Mbah Marijan & Jawa

    Pagi ini seorang kawan lama sesama  pendaki mengabarkan bahwa Mbah Marijan si Penjaga Merapi itu wafat. Berbagai  reaksi bermunculan. Salah satunya ada pihak yang mengatakan bahwa Mbah Marijan sangat menyepelekan ilmu pengetahuan yang jelas2 sudah member tahu ttg bahaya Merapi.  Ingatan ttg beliau tiba2 berhamburan. Saya ingat dulu beliau selalu menemani malam minggu ketika bersama sahabat2 saya dengan gaya sok jagoan jadi pendaki gunung itu ( gaya sok jagoan kami adalah mengikuti gaya beliau yang  memakai sarung dan membawa sebotol air minum saja). HIngga pada satu sore di sebuah senja yang jatuh dengan secangkir kopi dan ketawanya yang khas kami sempat bercakap tentang Merapi.

    Sebenarnya orang Jawa itu tidak mengenal konsep Tuhan dalam arti pemahaman agama2 Samawi yang notabene sebenarnya ‘impor’ bagi kultur  Jawa. Pulau yang begitu subur dengan bermacam2 gunung tentu saja selalu melimpahi  rakyatnya dengan berbagai kemakmuran, karena Tuhan adalah apa yang begitu ‘dekat’ dengan mereka maka Alam Semesta itu lah sebenarnya yang mereka sebut Tuhan. Tentu saja setelah berbagai kultur  dari India dengan Hinduism dan Budhanya, Arab dengan Yahudi, Kristen dan Islamnya mau tidak mau mereka harus mengkongkritkan pemahaman Tuhan ke dalam bentuk yang lebih kongkrit. Dan hirarki tertinggi mereka tentu saja adalah para Raja2 Jawa. Itu sebabnya jika Anda masih memiliki nenek2  atau kakek2 suku Jawa, cara mereka memanggil Tuhan adalah dengan sebutan “Gusti Allah” bahkan ada yang menyebutnya “Gusti Pangeran”  masih banyak  yang menyebut. Konsep ‘Gusti’ inilah sebenarnya adalah cara mereka berusaha keras  bahwa konsep abstrak mereka ttg Tuhan bisa terwujud dalam bentuk ‘Gusti”  ( panggilan untuk raja). Banyak doa2 jawa menyebut “ Duh Gusti Pangeran yang maha Agung …..” . karena itu tak heran bahwa  Raja adalah manifestasi tertinggi mereka untuk loyalitas. Apapun titah raja itu adalah bentuk ‘perintah’ dari   Kekuatan Terbesar  alam Semesta.  Ketika mbah Marijan dititahkan Raja Jawa untuk menjaga Merapi, itu bagaikan Musa di gurun Sinai yang mendengar langsung Tuhan dan memberi 10 perintah keilahiannya. Sesuatu yang harus secara total dan penuh di jalani apapun resikonya. Persepektif keimanan dan ketaatan inilah yang sulit sekali sebenarnya di jelaskan dengan akal sehat di alam modern ini. Seperti halnya para kelompok2 garis geras yang mengatasnamakan agama tertentu  yang terus melakukan tindakan anarkis, bagi mereka itu adalah masalah keyakinan dan keimanan mereka. Demikian pula dengan Mbah Marijan. Bagi beliau, meninggal dalam menjalankan perintah “Gusti Pangeran”  yang disampaikan Hamengkubowono adalah jihad dan  beliau menjalaninya dengan penuh cinta dan pengabdian yang penuh. Jadi bukan karena dia melecehkan ilmu pengetahuan atau bertindak bodoh. Beliau dengan amat sadar sekali dengan semua resiko itu. Sepert halnya para pelaku bom bunuh diri di negeri ini. Apapun agama di dunia ini selalu mengenal konsep ‘pengorbanan’, Islam dengan perintah menyembelih Ismailnya, Kristen dengan Penyaliban Yesus, Hindu dengan pembakaran api sucinya dll. Apakah itu kebodohan? Tentu saja buat penganut paham logika akan mengatakan ya tetapi dalam persepektif keimanan itu adalah bentuk kesetiaan keCintaan manusia terhadap Tuhan dan melalui ‘pengorbanan’ itu pula diharapkan akan terjadi keseimbangan buat umat manusia dan tentu saja alam ini sendiri. Bisa jadi itu yang ada di dalam benak Mbah Marijan saat semua akal sehat mengatakan betapa bodohnya dia tidak mau meninggalkan KInahrejo. Desa itu adalah hidupnya, cintanya. Kematian buat seorang Mbah Marijan bukanlah hal yang menakutkan. Karena kematian justru bentuk manifestasi tertingginya bersatu bersama Alam yang sangat amat mencintai dan dicintainya. Rumah yang sebenarnya buat beliau justru sudah ditempatinya. Alam ini sendiri. Siapa bilang dia tidak bahagia ? justru saya pribadi sangat “iri” bahwa dia menjalani kematian dengan penuh Cinta dan dengan kesadaran penuh untuk pulang ke Tuhannya : Alam Semesta.

    Sampai ketemu lagi Mbah…kita akan ketemu lagi ditempat dahulu kita mulai…

     

    Ingatan sebuah pendakian yang tak terlupakan bersama : Tofa, Cieng, Jojon, Weni, Nanang, Yuyun,Bavo, Farida.


    Posted at 02:35 pm by a cry toward the absurd

    melodramatic fools
    November 8, 2010   11:21 PM PST
     
    siapa yang sanggup men "JAGA" merapi? kita (manusia) hanya lalat-lalat kecil bagi merapi. selayaknya lalat penghisap darah di tubuh seekor gajah.
    bolehlah dikatakan bahwa mbah maridjan menjalani kematian dengan penuh cinta dan pengabdian penuh, lalu bagaimana dengan korban-korban lainnya yang menumpukan kepercayaannya pada beliau sebagai penjaga merapi??
     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home