kekasihwaktu

...waktu adalah detak jantung kita sendiri





inilah arti banyak dari satu kata laknat
:Waktu
inilah halte kehidupan.
konstanta peradaban.
partikel sebuah perjalanan;
semua tumbuh sendiri
semua rusak sendiri,
untuk akhirnya mati.
( dan Waktu mengalir di situ)

panggil saja aku :
perempuan kekasih Waktu!
kekasihwaktu@yahoo.com


<< August 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

Memento

Time is three things for most people, but for you, for us, just one.
A singularity. One moment.
This moment. Like you're the center of the clock, the axis on which the hands turn.
Time moves about you but never moves you.
It has lost its ability to affect you. What is it they say? That time is theft?
But not for you. Close your eyes and you can start all over again.
Conjure up that necessary emotion, fresh as roses.

Time is an absurdity. An abstraction.
The only thing that matters is this moment.
This moment a million times over.
You have to trust me.
If this moment is repeated enough,
if you keep trying-and you have to keep trying-eventually
you will come across the next item on your list.

Literature::

  • Pablo Neruda
  • Faust
  • Aynrand
  • Pulitzer
  • Yasunari Kawabata
  • Franz Kafka
  • Milan Kundera
  • Yukio Mishima
  • The Modern Word
  • Jhumpa Lahiri
  • Jorge Luis Borges
  • Arundhati Roy
  • Bei Dao

    Hiddendoors::

  • Tarotschool

  • Abundansecrets


  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



    Monday, August 31, 2009
    aku perempuanmu

    aku lupa pada ingatan tentang detak yang meruang dalam darahku, kealpaan yang menyekat untuk selalu diingat. detak yang selalu riuh dengan sebuah tanya yang tak pernah ingin kutahu jawabnya. Tanya yang selalu hinggar dalam diamku : akukah perempuanmu? Perempuan dengan separuh ingatan yang menguap diantara awan yang berubah menjadi gumpalan darah yang membeku dalam satu sudut kesendirian untuk dihingarkan menjadi sebuah seloka di ujung hari bernama senja.Ah, mari kita tasbihkan saja keringat kita dalam desah yang kita tempelkan begitu saja pada sebuah malam di bawah bintang.

    Posted at 12:11 am by a cry toward the absurd

     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home Next Entry